Label

Jumat, 29 Oktober 2010

Dimensia, pada lansia, faktor yang mempengaruhi dan sosial budaya yang ada di dalamnya

Pengertian  
Dimensia adalah gangguan fungsi kognitif menyeluruh dari otak. Hal ini ditandai gangguan fungsi memori atau daya ingat.
     Awalnya memori jangka pendek yang terganggu disusul jangka menengah dan panjang, tergantung tingkat keparahannya. Kondisi ini disertai satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain di antaranya kemampuan berbahasa, orientasi, eksekutif atau kemampuan bertindak secara berencana dan mengambil keputusan, berhitung dan pengenalan benda.
            Gangguan fungsi kognitif ini bisa disebabkan alzheimer yang dikenal sebagai demensia alzheimer. Penyebab lain adalah, gangguan pembuluh darah darah otak yang dikenal sebagai demensia vaskular di antaranya stroke, sumbatan kecil pada pembuluh darah otak yang meluas sehingga banyak sel-sel otak yang mati. Kemunduran fungsi kognitif ini bersifat menetap[1].
Kemunduran fungsi kognitif pada alzheimer umumnya kronik dan progresif. Jadi, prosesnya perlahan dan bertahap. Adapun penurunan fungsi kognitif pada demensia vaskular tergantung pada jenis gangguannya, bisa akut bila terjadi gangguan pembuluh darah secara mendadak, dan akan menurun lagi bila serangan itu berulang.
Ada beberapa faktor risiko terjadinya demensia yaitu genetik, pola hidup tidak sehat di antaranya kebiasaan merokok, hipertensi, kadar gula darah berlebih, dan depresi yang berlangsung terus-menerus atau berulang. Infeksi HIV dan defisiensi vitamin B juga meningkatkan risiko terkena demensia.
Prevalensi demensia adalah, 3 persen dari populasi penduduk usia 60 tahun ke atas, makin tua angka kejadiannya akan terus meningkat.  
Namun, demensia juga bisa dialami mereka yang berusia di atas 40 tahun atau disebut demensia onset dini. Hal ini bisa terjadi pada seseorang yang ada riwayat keluarga terserang demensia alzheimer atau faktor genetik, dan juga menderita gangguan pembuluh darah, apalagi bila ditambah dengan adanya depresi berkepanjangan.  
Gejala awal demensia adalah, kemunduran fungsi kognitif ringan di antaranya kemampuan mempelajari hal baru mundur sekali, ingatan terhadap peristiwa jangka pendek menurun, kesulitan menemukan kata-kata yang tepat. Pada tahap lanjut, gejalanya antara lain sulit mengenali benda, tidak bisa bertindak secara berencana, sukar mengenakan pakaian, dan sulit memperkirakan jarak. Saat mengemudi, penderita demensia sulit menjaga jarak dan mengkoordinasi anggota tubuh.
  • Faktor-fakor yang perlu diperhatikan dalam memberikan perhatian dan perawatan kepada lansia yang dimensia antara lain:
Ø  Intervensi lingkungan
Ø  Perilaku
Ø  Keluarga (rasa kekeluargaan, kasih sayang)
Ø  Sosial (memberikan perhatian lebih) budaya dalam pendekatannya.
Ø  Lingkungan yang terapeutik
Ø  Tidak mengasingkannya (lansia dimensia)
  • Bentuk sosial budaya yang biasa dilakukan dalam penanganan lansia. 
Perlu diketahui sebelumnya bahwa lansia yang mengalami dimensia adalah sangat membutuhkan ekstra perhatian. Para lansia  pada saat tertentu menjadi sangat sensitif terhadap perilaku seseorang, emosional, merasa selalu benar dan orang lain salah. Kadang muncul pula perubahan proses berpikir (waham curiga); perilaku kekerasan; risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan;gangguan komunikasi; defisit perawatan diri; kehilangan motivasi dan minat; isolasi sosial (menarik diri); perubahan sensori perseptual, halusinasi; cemas; serta depresi.
Merawat penderita demensia alzheimer tidak mudah, tapi bisa dilakukan.[2]  Pemahaman yang cukup tentang demensia alzheimer, kesiapan mental, dan motivasi untuk berbagi merupakan modal utama dalam memberikan asuhan. Kasih sayang dan perhatian merupakan pintu masuk untuk memberikan asuhan yang utuh dan menyeluruh sehingga penderita demensia alzheimer merasa aman dan nyaman.
Beberapa kasus yang terjadi di daerah Afrika-Amerika,para lansia sampai tidak mengenal cucunya lagi, itu bukan salahnya, itu salah cucunya. Mereka tidak datang pada nenek/ kakek mereka kecuali saat mereka membutuhkan sesuatu. Mereka tidak mau melihat keadaan nenek/ kakek mereka, karena bagi mereka, adalah sesuatu yang menyakitkan jika mereka melihat keadaan nenek/ kakek mereka dalam keadaan yang menyedihkan. Mereka merasa enggan. Padahal sebenarnya, kedatangan dan kepedulian mereka akan menenangkan perasaan nenek/ kakek mereka yang sering merasa tidak diperhatikan[3]
Keluarga yang tidak mempunyai kepedulian terhadap para lansia tersebut semakin memperparah keadaannya. Semakin tidak mengenal dirinya, dan melupakan orang-orang disekitarnya.
Tindakan keperawatan pada pasien demensia alzheimer sebaiknya dilakukan dengan membina hubungan saling percaya, menciptakan lingkungan yang terapeutik (tenang, tidak bising, sejuk, aman, warna dinding kamar teduh), reorientasi WTO (waktu, tempat, orang), memberi perhatian cukup termasuk kebutuhan dasar, konsisten, menepati janji, empati dan jujur, melakukan kontak dengan pasien dengan singkat tapi sering. Inilah pendekatan sosial-budaya yang dapat kita lakukan.
Contoh peristiwa yang pernah saya alami adalah tentang nenek saya sendiri. Sejak beliau tidak dapat melakukan segala sesuatu secara sempurna lagi, anak-anak beliau berencana agar nenek ( kakek telah meninggal) tinggal dengan salah satu anaknya, dan tempatnya terserah pada kemauan nenek. Akhirnya pilihan nenek jatuh pada ayah, anak ke-4 dari lima bersaudara.
Selama di rumah ayah, dalam masa lansia, mulai terlihat kurangnya daya ingat , lupa ketika telah melakukan suatu hal, nenek bilang belum mengerjakannya. Ketika akan memanggil nama cucunya (misal saya) kadang yang beliau sebut bukan nama saya, entah nama adik saya ataupun nama cucunya yang lain. Ketika beliau merasa ada yang tidak sesuai dengan hatinya, beliau langsung marah-marah, ketika diminta tenang sedikit dengan suara yang agak keras, beliau langsung merasa sedih, hingga kamipun merasa kewalahan dengan sikapnya.
Alhamdulillah, anak-anak nenek masih peduli dan sering menjenguk nenek, mereka juga mengajak cucu-cucu nenek untuk melihat keadaan nenek. Hal yang seperti itulah yang akhirnya membuat nenek tidak merasa sedih lagi. Kami berusaha agar beliau tidak “rewel” lagi dengan sesuatu. Kadang memang mengesalkan, namun kamipun tidak tega untuk memarahinya. Bagaimanapun beliau adalah orang yang dulu kita butuhkan dan sekarang mereka yang membutuhkan kita.
           



[1] Suryo,”Latih Otak Singkirkan Dimensia” diakses pada 1 Mei 2010 dari   http://kesehatan.kompas.com/read/2009/02/19/22050114/latih.otak.singkirkan.demensia.
[2] Ibnu abbas, S Keep selakuy Wakil Kepala Pelayanan Medis, Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti.@http://alzheimerindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=60:penanganan-demensia&catid=37:exotic-destinations&Itemid=79 diakses pada 1 Juni 2010

[3] Kenneth Fox, W. Ladson Hinton and Sue Levkoff,”Culture,Medicine and Psychiatry” 23: 501-529, 1999.© 1999 Kluwer Academic Publishers. Printed in Netherlands.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar